ENDE -- Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Ende saat ini
menggunakan drone (pesawat tanpa awak, Red) untuk memantau perkembangan
lalu lintas yang terjadi di kota itu. Penggunaan drone untuk memantau
lalu lintas merupakan yang pertama di NTT.
Kepala Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Ende, AKP Indra G Kusuma, mengatakan hal itu kepada Pos Kupang di Ende, Kamis (23/4/2015).
Indra mengatakan, untuk memantau perkembangan lalu lintas yang terjadi di Kota Ende, pihaknya melakukan terobosan dengan mendatangkan pesawat tanpa awak atau yang lazim disebut drone. Hal itu untuk mempermudah pemantauan terhadap semua perkembangan lalu lintas dari sudut berbeda.
Kepala Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Ende, AKP Indra G Kusuma, mengatakan hal itu kepada Pos Kupang di Ende, Kamis (23/4/2015).
Indra mengatakan, untuk memantau perkembangan lalu lintas yang terjadi di Kota Ende, pihaknya melakukan terobosan dengan mendatangkan pesawat tanpa awak atau yang lazim disebut drone. Hal itu untuk mempermudah pemantauan terhadap semua perkembangan lalu lintas dari sudut berbeda.
"Artinya, pelaksanaan pemantauan tidak saja terbatas pada anggota
polisi turun ke jalan, tapi bisa dilakukan dari atas udara sehingga
dapat diambil langkah-langkah atau tindakan terkait dengan kejadian lalu
lintas yang ada," kata Indra.
Menurut Indra, idealnya penggunaan drone dilakukan di daerah atau kota yang memiliki tingkat kemacetan tinggi, seperti di Jawa. Namun tidak tertutup kemungkinan bisa dilakukan di kota dengan tingkat kemacetan rendah seperti di Kota Ende.
"Apa yang kerap kita lihat di televisi terkait pemantuan lalu lintas kini bisa kita lihat langsung di Kota Ende saat ini karena Satuan Lalu Lintas Polres Ende telah menggunakan drone untuk pelaksanaan pemantaun lalu lintas," kata Indra.
Dijelaskannya, penggunaan drone oleh Satuan Lalu Lintas Polres Ende saat ini masih ujicoba. Selain keberadaan alat tersebut masih merupakan hal asing, juga karena belum ada tenaga teknis yang benar-benar mahir mengoperasikan drone.
"Kita masih sangat hati-hati menggunakannya terutama ketika dioperasikan di dekat bandara karena dikhawatirkan bisa mengganggu penerbangan yang bisa berakibat fatal," kata Indra.
Dijelaskannya, pesawat tanpa awak itu mampu beroperasi setinggi 1.000 meter dari permukaan bumi serta bisa mengambil gambar dan video yang bisa langsung dianalisa di darat. "Keberadaan pesawat tanpa awak kalau di kota besar yang tingkat kerawanananya tinggi bisa juga dilengkapi dengan senjata untuk membubarkan massa. Tapi untuk kita di Ende digunakan untuk memantau lalu lintas," kata Indra.
Sumber Pos Kupang
Menurut Indra, idealnya penggunaan drone dilakukan di daerah atau kota yang memiliki tingkat kemacetan tinggi, seperti di Jawa. Namun tidak tertutup kemungkinan bisa dilakukan di kota dengan tingkat kemacetan rendah seperti di Kota Ende.
"Apa yang kerap kita lihat di televisi terkait pemantuan lalu lintas kini bisa kita lihat langsung di Kota Ende saat ini karena Satuan Lalu Lintas Polres Ende telah menggunakan drone untuk pelaksanaan pemantaun lalu lintas," kata Indra.
Dijelaskannya, penggunaan drone oleh Satuan Lalu Lintas Polres Ende saat ini masih ujicoba. Selain keberadaan alat tersebut masih merupakan hal asing, juga karena belum ada tenaga teknis yang benar-benar mahir mengoperasikan drone.
"Kita masih sangat hati-hati menggunakannya terutama ketika dioperasikan di dekat bandara karena dikhawatirkan bisa mengganggu penerbangan yang bisa berakibat fatal," kata Indra.
Dijelaskannya, pesawat tanpa awak itu mampu beroperasi setinggi 1.000 meter dari permukaan bumi serta bisa mengambil gambar dan video yang bisa langsung dianalisa di darat. "Keberadaan pesawat tanpa awak kalau di kota besar yang tingkat kerawanananya tinggi bisa juga dilengkapi dengan senjata untuk membubarkan massa. Tapi untuk kita di Ende digunakan untuk memantau lalu lintas," kata Indra.
Sumber Pos Kupang
No comments:
Post a Comment