Saturday, November 15, 2014
Menteri Perindustrian Serahkan Bantuan Untuk IKM di NTT
Kupang, Menteri Perindustrian, Saleh Husin dalam kunjungan kerjanya ke Nusa Tenggara Timur menyerahkan bantuan peralatan bagi Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Kabupaten Sikka, Ende, Manggarai Timur, dan Kabupaten Manggarai serta pelatihan tenun ikat di Sumba Timur dan Timor Tengah Selatan.
Penyerahkan bantuan tersebut dilaksanakan di Kupang, Sabtu (15/11), bersamaan dengan penandatanganan MoU percepatan pelaksanaan indusri garam di Kupang dan Nagekeo.
Saleh Husin mengatakan, bantuan tersebut lebih spesifik pada peralatan tenun ikat yang lebih modern sehingga menghasilkan tenun ikat berdaya saing di pasaran.
“Tenun ikat NTT sudah terkenal ke seluruh dunia karena memiliki keanekaragaman motif yang dimiliki oleh masing-masing daerah dengan kekhasannya,” ujarnya.
Dia mengatakan, sebagai putera daerah selama masa kepemimpinannya di Kementerian Perindustrian akan memperhatikan tumbuh kembangnya industri di Kawasan Timur Indonesia umumnya dan NTT pada khususnya, yang masih jauh tertinggal dibandingkan Jawa atau Sumatera.
Dia mengatakan, NTT sejak tahun 80-an hanya memiliki satu industri yakni Pabrik Semen Kupang, yang menjadi kebanggaan daerah. Padahal masih ada potensi lain yang patut dikembangkan.
Sebelumnya, Gubernur Frans Lebu Raya mengatakan, industri di NTT hingga saat ini masih didominasi oleh industri pengolahan makanan ringan diikuti industri tenun ikat dan anyaman, industri perkayuan khususnya perabot rumah tangga dan industri jasa lainnya.
Dia menjelaskan, pertumbuhan industri di NTT setiap tahunnya hanya mencapai 1,6 persen dibanding dengan rerata pertumbuhan industri nasional yang mencapai 5,8 persen.
“Untuk itu, pemerintah provinsi mapun kabupaten dan kota di NTT, terus mendorong pertumbuhan industri di provinsi kepulauan ini berbasis potensi lokal yang dimiliki masing-masing daerah, melalui pendanaan APBD, ” katanya.
Sumber Flobamora.net
Penyerahkan bantuan tersebut dilaksanakan di Kupang, Sabtu (15/11), bersamaan dengan penandatanganan MoU percepatan pelaksanaan indusri garam di Kupang dan Nagekeo.
Saleh Husin mengatakan, bantuan tersebut lebih spesifik pada peralatan tenun ikat yang lebih modern sehingga menghasilkan tenun ikat berdaya saing di pasaran.
“Tenun ikat NTT sudah terkenal ke seluruh dunia karena memiliki keanekaragaman motif yang dimiliki oleh masing-masing daerah dengan kekhasannya,” ujarnya.
Dia mengatakan, sebagai putera daerah selama masa kepemimpinannya di Kementerian Perindustrian akan memperhatikan tumbuh kembangnya industri di Kawasan Timur Indonesia umumnya dan NTT pada khususnya, yang masih jauh tertinggal dibandingkan Jawa atau Sumatera.
Dia mengatakan, NTT sejak tahun 80-an hanya memiliki satu industri yakni Pabrik Semen Kupang, yang menjadi kebanggaan daerah. Padahal masih ada potensi lain yang patut dikembangkan.
Sebelumnya, Gubernur Frans Lebu Raya mengatakan, industri di NTT hingga saat ini masih didominasi oleh industri pengolahan makanan ringan diikuti industri tenun ikat dan anyaman, industri perkayuan khususnya perabot rumah tangga dan industri jasa lainnya.
Dia menjelaskan, pertumbuhan industri di NTT setiap tahunnya hanya mencapai 1,6 persen dibanding dengan rerata pertumbuhan industri nasional yang mencapai 5,8 persen.
“Untuk itu, pemerintah provinsi mapun kabupaten dan kota di NTT, terus mendorong pertumbuhan industri di provinsi kepulauan ini berbasis potensi lokal yang dimiliki masing-masing daerah, melalui pendanaan APBD, ” katanya.
Sumber Flobamora.net
Bupati Ende Siap Jadi Mediator Bangun Pariwisata Flores Dan Lembata
Bupati Ende, Marsel Petu kiri, Menteri Perindusrian, Saleh Husin kanan
Kupang, Bupati Ende, Marselinus Y.W Petu menyatakan, dirinya mau dan bersedia menjadi mediator pembangunan dunia kepariwisataan di Pulau Flores dan Lembata.
“Membangun pariwisata harus dilihat dalam konteks satu kesatuan wilayah (holistik),” kata Bupati Ende, Marselinus kepada wartawan setelah mengikuti sidang paripurna pelantikan empat pimpinan DPRD NTT di Kupang, Rabu (12/11).
Marsel mengatakan, pintu gerbang pariwisata Flores harus tetap di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat. Selain objek wisata Taman Nasional Komodo (TNK) dengan binatang purba Komodo yang telah ditetapkan sebagai tujuh keajaiban dunia, pergerakan pariwisata juga dari Barat ke Timur. Sehingga setelah menikmati objek pariwisata di Bali dan Senggigi di Nusa Tenggara Barat (NTB)wisatawan akan bergeser ke Timur,
Menurutnya, wisatawan akan bergerak ke Labuan Bajo dan daerah- daerah lainnya di Flores. Untuk itu, semua daerah di Flores, harus memperkuat objek- objek wiata yang ada dan sebagai penyangga memajukan dunia kepariwisataan.
“Kita tidak boleh bangun pariwisata dalam konteks primordial, tapi harus dalam konteks holistik- satu kesatuan wilayah Flores,” kata Marsel.
Menjawab pertanyaan apakah membangun pariwisata dalam konteks holistik ini sudah dibicarakan dengan bupati lain di daratan Flores, Marsel akui, secara forum belum pernah dibahas bersama dengan para bupati. Tapi ide untuk membangun pariwisata dalam konteks holistik ini sudah disampaikan dalam secara informal.
“Saya mau dan bersedia menjadi motivator untuk membangun pariwisata Flores dalam konteks holistik,” tandas Marsel.
Pada kesempatan itu Marsel tegaskan, pemerintah daerah harus menjadikan kebudayaan sebagai suatu kekuatan yang utuh dalam membangun pariwisata
Menurutnya, daerah yang kuat adalah daerah dengan kebudayaan yang kuat. Bali misalkan, membangun pariwisata dengan kekuatan dan tetap mempertahankan budaya, selain objek wisata lain yang menjadi aspek pendukung
“Saya tolak tambang dan lebih mendorong pariwisata, karena masyarakat kita tidak diwariskan dengan hasil tambang,” papar Marsel.
Sumber Flobamora.net
Subscribe to:
Posts (Atom)







