WELCOME TO ENDE FLORES KOTA RAHIMNYA PACASILAKOTA RAHIMNYA PACASILA

Rabu, 28 Mei 2014

Bupati Ende Anulir Kerja Tim Verifikasi Honor K2

Ende, Bupati Ende, Marselinus YW Petu akhirnya menganulir hasil kerja Tim Verifikasi terhadap 522 tenaga honor K2 dimana dari jumlah tersebut hanya 246 tenaga K2 yang lolos verifikasi untuk diusulkan menjadi CPNS.
 
Kerja Tim Verifikasi adalah mengumpulkan data, berkas dari tenaga honor K2. Dari hasil kerja itui ditemukan 270 yang datanya tidak lengkap alias tenaga Bodong.
 
Dihadapan ratusan tenaga honor yang tidak lulus verifikasi, Senin (26/5) malam, Bupati Marselinus memerintahkan Badan Kepegawaian Daerah (BKD)  setempat untuk  memproses semua tenaga honor yang sudah lulus tes CPNSD.
 
Menurutnya, bupati ataupun BKD tidak punya kewenangan untuk mernentukan kelulusan seorang PNS namun kelulusan tersebut ditentukan oleh BKN dan Menpan.
 
“Sebagai bupati saya perintahkan BKD untuk segera memproses semua dokumen dari 522 honor K2 yang sudah lulus testing beberapa waktu lalu. Dokumen mereka harus dibawa semuanyan ke BKN dan Kemenpan, karena sebagai bupati atau pemerintah apalagi BKD tidak punya kewenangan untuk menentukan kelulusan mereka,” tuturnya.
 
Kepada para tenaga  honor K2 yang menemui dirinya, Bupati  Marselinus mengingatkan, jika dikemudian hari ditemukan indikasi kecurangan, atau adanya manipulasi data maka mereka harus siap menerima konsekuensi baik konsekuensi hukum maupun konsekuensi administrasi.
 
“jika memang terjadi seperti itu maka anda kalian yang harus bertanggung jawab dan tidak lagi melempar tanggung jawab kepada bupati atau BKD atau ke pemerintah daerah,” katanya.
 
Penjelasan Bupati Marselinus membuat para tenaga honor K2 khususnya yang tidak lulus verifikasi menjadi tenang.
 
Tim Verifikasi itu sendiri dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten Ende untuk melihat kembali kelengkapan data . Tim yang diketuai Plt Sekda Ende tersebut terdiri dari unsur BKD, Kesbangpol, Banwas Kabupaten Ende, Bagian Hukum dan PPKAD serta PPO, menemukan 270 tenaga Bodong, sehingga mereka di rekomendasikan untuk tidak diusulkan ke BKN dan Kemenpan karena ada data rekayasa dan data yang tidak lengkap dan tidak memenui persyaratan.
 
Untuk diketahui sebanyak 270 tenaga Honor K2 yang mengabdi di sejumlah SKPD terlebih tenaga guru , Senin (26/5) mengamuk di kantor BKD. Pasalnya berdasarkan pengumuman  hasil verifikasi diketahui mereka  tidak memenuhi persyaratan  untuk diajukan sebagai PNS meski mereka telah lulus testing beberapa waktu lalu.
 
Seperti yang disaksikan, ratusan tenaga Honor K2 tersebut, usai mendengarkan hasil pengumuman yang dibacakan oleh kepala BKD Ende Derson Duka di lantai II kantor Bupati Ende,melampiaskan kekeselan mereka dengan ‘menyerbu’  kantor BKD setempat yang terletak di kompleks kantor Bupati Ende. Mereka berteriak agar BKD setempat menjelaskan secara tegas mengapa mereka gagal dalam verifikasi.

 
Pantauan Flobamora.net,  sejak Selasa (27/5) hingga Rabu (28/5) meski  hari libur ratusan tenaga honor K2 datang untuk memasukan kelengkapan berupa berkas dan persyaratan di kantor BKD untuk selanjutnya dihantar ke BKN Pusat. ***

PLTU Ropa Mulai Beroperasi, Masyarakat Diminta Jangan Panjat Tower

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Ropa yang ada di Ropa, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende, mulai beroperasi penuh pada 21 Mei 2014 sekitar pukul 03.00 Wita yang ditandai dengan mengalirnya arus listrik dari Ropa menuju sistem listrik yang ada di pusat pembangkit listrik di Kota Ende.

Manajer Unit Pelaksana Konstruksi, Flores-NTT, Albert Siregar mengatakan hal itu kepada Pos Kupang di Ende, Kamis (22/5/2014) ketika dikonfirmasi mengenai keberadaan PLTU Ropa.

Albert mengatakan setelah menjalani serangkain uji coba akhirnya PLTU Ropa bisa beroperasi yang diawali dengan pembakaran batu baru sebagai sumber utama pembangkit pada 18 April 2014. Setelah proses pembakaran terjadi maka pada 21 April 2014 pukul 03.00 Wita listrik dari PLTU Ropa berhasil masuk dalam sistem listrik yang ada di Kota Ende melalui jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT), Ropa-Ende.

"Sebelumnya pada saat uji coba listrik bisa dialirkan ke Ende dari PLTU Ropa melalui jaringan tegangan menengah milik PLN yang selama ini memang sudah ada namun semenjak 21 April 2014 listrik dari PLTU Ropa dialirkan melalui jaringan tersendiri yang dikenal dengan nama SUTT,"kata Albert.

Menurut Albert pasokan listrik dari PLTU Ropa akan terus ditingkatkan sesuai dengan kapasitas PLTU Ropa sebesar 7 Mega. Saat ini pemakain listrik dari Ropa masih sebesar 2 Mega.

Dengan adanya pasokan listrik dari PLTU Ropa, Albert mengatakan maka dengan demikian ketersediaan tenaga listrik untuk Kota Ende mencukupi namun demikian ibarat pepatah dimana ada gula di situ ada semut maka keberadaan tenaga listrik yang sudah mencukupi itu tentu akan menarik investor sehingga demikian keberadaan pasokan listrik tentu akan selalu kurang.

"Kita tentu berupaya semampu kita menyediakan tenaga listrik bagi masyarakat termasuk memenfaatkan sumber daya alam pembangkit listrik dari PLTU Ropa yang memenfaatkan tenaga batu bara,"kata Albert.

Tentang keberadaan tapak tower yang digunakan sebagai SUTT untuk menyalurkan listrik dari PLTU Ropa, Albert meminta kepada masyarakat untuk bersama-sama menjaga keberadaan tiang tapak tower yang ada sehingga bisa aman baik bagi diri maupun untuk kelangsungan pasokan listrik.

"Masyarakat jangan sekali-kali mendekati apalagi memanjat tapak tower yang ada karena bisa membahayakan jiwa karena tapak tower yang ada mengalirkan listrik dengan tegangan tinggi,"kata Albert.

Albert menjelaskan secara tehknis aliran listrik dari PLTU Ropa dialirkan melalui jaringan SUTT lalu masuk kedalam sistem listrik di Kota Ende yang dikendalikan dari ruang kendali yang ada di PLTD Mautapaga.

Bupati Minta KM Ariraya Disingkirkan Dari Bandara Ende

Wakil Bupati Ende, Djafar Achmad meminta kepada pemilik kapal KM Ariraya untuk segera menyingkir bangkai kapal tersebut sekitar landasan Bandara Haji Hasan Aroboesman Ende karena keberadaan bangkai kapal tersebut dinilai mengganggu proses embarkasi pesawat di Bandara Haji Hasan Aroboesman Ende.

Kepada Pos Kupang, Selasa (27/5/2014) yang menemuinya di rumah jabatan Wakil Bupati Ende, Jalan Soekarno, Wabup Djafar mengatakan sesuai dengan informasi yang diterimanya dari otoritas Bandara Haji Hasan Aroboesman Ende menyatakan bahwa semenjak kapal Ariraya terdampar di dekat bandara beberapa waktu lalu membuat proses penerbangan praktis menjadi terganggu.


"Pihak bandara terpaksa harus memperpendek landasan pesawat dari 1.600 meter menjadi 1.400 meter itu artinya ada masalah yang ditimbulkan dari terdamparnya KM Ariraya,"kata Wabup Djafar.
Sehubungan dengan terdamparnya KM Ariraya, Wabup Djafar mengatakan pihaknya telah menugaskan Kepala Dinas (Kadis) Perhubungan Kabupaten Ende, Cosmas Nyo untuk menemui pemilik kapal di Surabaya guna meminta kepasatian soal keberadaan kapal Ariraya yang hingga kini masih terdampar di dekat Bandara Ende.


"Kita ingin kepastian kapan kapal itu dievakusai atau mau dijadikan besi tua silahkan saja itu urusan mereka yang terpenting kapal itu segera disingkirkan dari area Bandara Ende,"ujarnya.


Menurut Wabup Djafar dari kaca mata dirinya melihat bahwa keberadaan kapal Ariraya saat ini tampaknya agak sulit dievakuasi karena letaknya sudah berada diatas pasir sehingga jalan keluarnya ada kemungkinan akan dipotong. "Indikasinya sepertinya akan dipotong,"ujarnya.


Menurut Wabup Djafar pihaknya tidak ingin keberdaan kapal Ariraya justru membawa dampak yang lebih luas terdahap keberadaan bandara. Oleh karena itu pihaknya meminta agar kapal itu harus segera disingkirkan dari bandara.


"Saat ini memang kondisinya masih agak jauh dari bandara namun bukan tidak mungkin suatu saat apabila terkena hantaman ombak besar bisa saja kapal terlempar hingga memasuki area bandara. Hal ini tentu akan membawa dampak yang luar biasa karena bisa melumpuhkan bandara Ende,"ujarnya.

Jumat, 16 Mei 2014

Batu Berwarna di Pantai Penggajawa Kabupaten Ende

Terletak kira-kira 29 km arah barat Kota Ende, terdapat hamparan batu berwarna dengan dominan warna biru, hijau serta coklat di sepanjang pesisir pantai Penggajawa.

Lokasi  ini sangat  mudah dijangkau dengan menggunakan fasilitas transportasi umum maupun sepeda motor.
Batu Penggajawa bernilai ekonomis yang cukup tinggi dengan ukuran bervariasi, dan ini menjadi salah satu komoditi eksport dari Kabupaten Ende.

Dikumpulkan dan dijual oleh penduduk lokal sehingga sebagian besar penduduk di sini bermatapencaharian sebagai pengumpul batu. Di samping itu keadaan laut yang jernih dan membiru, merangsang keinginan untuk melakukan berbagai aktivitas bahari lainnya seperti mandi, berenang, mancing sambil menikmati bentangan alam pesisir selatan yang indah dan menantang.

Anakalo “ Kalau semapat Datang Ke Ende Jangan Lupa Kunjungi Ya…a..a”
Pantai Penggajawa Kabupaten Ende

Mengunjungi Ende, Apakah Hanya Kelimutu?


 Pantai Penggajawa Kabupaten Ende

Ende, sebuah daerah interniran dimasa penjajahan Belanda ternyata memiliki aneka potensi lokasi yang layak untuk didatangi, dimana orang mungkin hanya mengenal Kelimutu yang yang menakjubkan dengan danau tiga warna-nya, karena itulah “komoditas” andalah untuk dunia pariwisata di Ende. Benar nyatanya memang demikian. Tetapi apakah benar hanya Kelimutu destinasi yang layak di kunjungi di wilayah Kabupaten Ende?

Sebuah kabupaten yang letaknya persis ditengah jantung Pulau Flores ternyata masih menyimpan begitu banyak pesonanya yang secara perlahan mulai terkuak dan memanggil para penikmatnya untuk mulai mengeksplorasi lebih jauh apa saja yang dipunyai Ende.

Terdapat begitu banyak destinasi yang dapat menjadi pilihan bagi siapapun yang hendak mengunjungi Ende, mulai dari wisata sejarah, panorama alam pegunungan dan pantai-pantai cantiknya, budaya, kerajinan dan beragam hal lainnya dapat ditemukan di Ende.

Tetapi mulai sekarang, beragam destinasi telah ditawarkan saat kita mengunjungi wilayah kabupaten tersebut. Mulai dari ibukota kabupaten, kita telah ditawarkan untuk segera menapaki jejak sejarah negeri ini, dimana sebuah museum Bung Karno siap menanti anda untuk lebih mendalami asal-usul tercetusnya Pancasila sebagai landasan dari republik tercinta ini. Pasca renovasi yang telah dilakukan, Ende sangat tepat dijadikan sebagai pusat peringatan kelahiran Pancasila seperti beberapa waktu lalu saat Wakil Presiden Budiono serta Alm. Taufik Kiemas menjejakan kakinya untuk memperingatinya.

Setelah itu? Jangan bergeser dulu dari Ende. Sebuah kawasan pantai eksotis dengan kekhasannya tentu menanti anda untuk didatangi. Pantai Batu Hijau yang saat ini telah menjadi salah satu sendi ekonomi warga setempat menawarkan pesona yang beda dibandingkan dengan pantai cantik lainnya dan menjadi sebuah spot luar biasa untuk menantikan datangnya sang senja.

Masih diseputaran Kota Ende, tentu kita juga tidak ingin melewatkan begitu saja keindahan Pantai Ria yang terletak tepat di Beranda Kota Ende, disamping beberapa bangunan tua nan eksotik seperti Gereja Katedral Ende. Sudah cukup?

Bergeser kearah timur, kita dapat mengunjungi Pantai Mbuu, sebuah pantai indah yang menawarkan landscape menarik untuk diabadikan oleh kamera anda. Sebuah potret landscape yang cukup lengkap dapat ditangkap pada spot ini, dan kita dapat melanjutkan menuju Kampung Ndona, yang menawarkan keindahan corak dalam kerajinan tenunnya.

Ende ternyata tidak ada habisnya. Sebelum menuju Kelimutu, kita disuguhi beragam panorama dengan alam pegunungan dan lembah dalam dengan dasarnya mengalir air nan jernih. Ingin merasakan? Jangan lewatkan, kita dapat merasakan saat ingin mencemplungkan diri ke sungai yang bersumber dari pegunungan tepat di tepi jalan trans Flores atau di sekitar jembatan KM-10. Bila musim penghujan, mulai dari lokasi tersebut, kita dapat menikmati beberapa air terjun yang berada disisi kiri jalana trans Flores kearah timur.

Lepas dari kota Ende, sekitar 30-an km, kita memasuki sebuah wilayah bernama Detusoko dengan ragam pesona tersendiri. Hamparan sawah berundak akan menjadi suguhan menarik di wilayah tersebut dan bila sedang musim tanam atau musim panen tiba, jangan lewatkan kesempatan untuk berbaur bersama masyarakatnya yang ramah, merasakah lumpur sawah atau sekedar mengambil gambar sebagai pelengkap cerita anda. Bila kemalaman, sebuah penginapan sederhana dapat menjadi tempat istirahat anda di wilayah ini sambil menikmati hangatnya spot wisata air panas bernama Ae Oka.

Lepas dari Detusoko terdapat 2 pilihan, apakah kita ingin meneruskan kearah timur, atau mencoba menerobos ke arah utara. Disana, sebuah pantai nan eksotis siap menjamu kita dengan landscapenya yang luar biasa, sebuah hamparan pantai berpasir putih dengan laguna indah bernama Pantai Anabara seolah menjadi tempat pilihan untuk menikmati kebesaran Tuhan, membaur bersama penduduk lokal yang ramah dan merasakah dan membayangkan seolah pantai ini menjadi pantai pribadi anda. Ah, itu baru awalnya.

Kembali ke Detusoko, menuju arah timur, saat memasuki ekoleta yang sangat terkenal sebagai penghasil beras organik dan suguhan sawah berundak, silakan berbelok menuju sebuah kampung bernama Wolojita dengan suguhan deretan rumah adat serta jenazah yang disemayamkan diatas pohon beringinnya, dan seratus meteran dari kampung tersebut, dengan sedikit tanjakan saat berjalan kaki, sebuah kampung adat lainnya juga siap menyambut anda.

Selepas tanah lapang yang biasa digunakan untuk parkiran kendaraan, kita sudah disambut oleh rumah-rumah adat di kampung Wolondopo dengan bubungan tinggi dan ilalang yang menjuntai, sebuah kampung eksotis seolah sangat disayangkan untuk tidak diabadikan pada kamera anda.

Bila waktunya cukup, kita dapat menemui sang juru kunci kampung tersebut yang juga merupakan kepala sukunya untuk melihat mumi bernama Kaki More. Eits…..sabar dulu, untuk melihat mumi tersebut, biasanya dilaksanakan ritual terlebih dahulu oleh sang penerusnya, sebagai sebuah penghormatan atas tradisi dan sebuah kearifan lokal yang tentu perlu terus lestari.

Selepas kampung adat Wolojita dan Wolondopo sebuah situs berusia sekian abad akan menanti anda untuk dinikmati dan mengajak anda untuk kembali ke masa ratusan tahun silam, dalam keramahan masyarakatnya pada sebuah kampung adat dibawah kaki Gunung Lepembusu bernama Wologai.

Sebuah kampung adat yang selalu bangkit kembali termasuk terakhir saat mengalami kebakaran hebat pada Oktober setahun silam, seolah menjadi bukti akan spirit yang luar biasa dalam mempertahankan lestarinya adat istiadat warisan leluhurnya.

Kembali ke jalur trans Flores, panorama alam dengan hamparan pegunungan dan lembah serta areal persawahan bertingkat akan menjadi suguhan menarik selanjutnya hingga memasuki Kampung Ndua Ria, dimana sebuah pasar tradisional akan menawarkan pesonanya tersendiri diantara deraian tawa mama-mama yang asyik menginang (makan sirih pinang), rasakan keramahan mereka. Disini, biasanya setiap kendaraan atau bus yang lewat pasti mampir untuk membeli sayur mayur berkualitas dan bagi anda penggemar sayuran organik dapat dibeli disini dengan harga yang dijamin murah.

Melewati Ndua Ria, tengoklah pada sisi kiri kendaraan anda. Sebuah landscape yang luar biasa seolah terpapar dan memanjakan mata anda yang memang menggemari spot-spot semacam itu hingga memasuki kampung Nuamuri yang terkenal sebagai penghasil kentang dan wortel.

Melewati wilayah kampung Nuamuri, kita akan tiba di Desa Koanara yang menjadi pusat persinggahan bagi para wisatawan sebelum memasuki Kelimutu. Beragam penginapan dengan harga beragam dapat anda pilih di wilayah ini, salah satunya adalah Daniel Lodge.

Bila waktunya bertepatan dengan hari pasar, please, jangan lewatkan untuk mengabadikan moment-moment menarik disini. Sebuah pasar tradisional yang menawarkan suguhan berbeda akan kita dapatkan disini. Bagi penggemar kain tenun tradisional, wisatawan dapat memperoleh ditempat ini, dengan sedikit menawar wisatawan bisa mendapatkan aneka kain tenun khas Suku Lio yang terkenal dengan aneka motif nan indah.

Selain itu, bila ingin melihatnya saja, jangan lewatkan pasar ini, karena ibarat “Cat walk” dipasar tradisional ini, kita dapat menikmati aneka motif tenunan sebagai sebuah mahakarya dari para seniman Lio dalam balutan sarung yang biasanya dikenakan oleh kaum perempuannya.

Sebelum ke Kelimutu atau sesudahnya dan bila ingin menikmati Moni dan sekitarnya lebih lama, sempatkan diri anda untuk mengunjungi sebuah situs tua dengan deretan rumah adat bernama Sa’o Ria di Koanara dan rasakan suasana berbeda saat anda memasuki gerbang Sa’o Ria yang dihiasi oleh kepala kerbau dan hubungi mama Fara bila ingin mengunjungi tempat ini. Infonya dapat diperoleh di Daniel Lodge.

Saat subuh, keramaihan seolah tidak terdengar. Ojek, ataupun kendaraan roda 4 pada saat dinihari akan terlihat sibuk mengangkut para wisatawan yang ingin merasakan sensasi lain di Kelimutu. Sunrise yang luar biasa akan menjadi pelengkap cerita anda saat mengunjungi Danau 3 warna yang nan cantik dan ditemukan pada tahun 1815 tersebut.

Bagi wisatawan minat khusus, jangan lewatkan untuk mengunjungi arboretum di kawasan sekitar Danau Kelimutu, karena disini kita seolah memasuki sebuah laboratorium alam untuk menikmati apa saja yang ada di dalam tanam nasional tersebut.

Sekembalinya dari Kelimutu, alangkah sayang bila kita tidak menyempatkan waktu untuk mengunjungi kampung adat Pemo. Sebuah kampung adat yang letaknya persis di kaki Kelimutu akan membawa suasana lain bagi para wisatawan saat memasuki situs kampung adat tersebut yang akan menyambut anda dengan deretan rumah adatnya.

Sayang bila konsentrasi wisatawan hanya Kelimutu. Kembali ke Desa Koanara - Moni, siapkan jadwal lanjutan anda yang tentunya salah satu syarat adalah perpanjanglah masa tinggal anda disini. Bila anda suka berjalan kaki, arahkanlah kaki anda sejauh 3 km ke Kampung Mbuli Lo’o, disana, wisatawan akan disuguhi langsung oleh para seniwati yang setia dalam tradisinya, yaitu menenun. Sebuah tradisi turun temurun yang tetap dilaksanakan khususnya oleh kaum perempuannya dapat disaksikan disini.

Puas menikmati sajian khas di tempat ini, jangan lupa untuk membeli kain tenunannya sebagai oleh-oleh bagi keluarga atau para kerabat anda, karena tersedia kain tenun khas Suku Lio mulai dari harga yang paling murah hingga mahal. Please, bila menawar janganlah terlalu murah, karena untuk membuat mahakarya dalam bentuk kain tenunan ternyata sangatlah rumit dan bila waktu anda cukup, anda dapat menikmati tentang tata cara pembuatan sebuah kain tenun, mulai dari pembuatan benang, teknik mengikat untuk membentuk motif hingga pewarnaan yang selalu dilakukan secara alami.

Dari kampung Mbuli Lo’o, teruslah melangkahkan kaki anda menuju selatan. Sebuah kampung adat lainnya di desa Jopu menanti anda untuk dikunjungi. Sebuah bentuk nyata dari upaya untuk mempertahankan seolah menjadi bagian dari jiwa masyarakat Suku Lio di Ende untuk terus menjaga tradisi termasuk rumah-rumah adatnya yang memiliki arsitektur unik dan pastikan juga anda untuk terus melangkahkan kaki anda menuju sebuah desa bernama Nggela yang letaknya persis di pantai selatan.

Deretan rumah-rumah adat dan sebuah kuburan tua sebagai pertanda awal dari keberadaan kampung tersebut, lengkap dengan panorama pantai selatan serta detak bunyi dari peralatan tenun tradisional akan terasa lengkap untuk diabadikan ditempat ini. Kampung Nggela sangat terkenal akan tradisi tenunannya dan pada masa lalu, ada sebuah jenis hasil tenunan yang biasanya digunakan oleh kaum bangsawan berasal dari kampung tersebut dan berharga cukup mahal karena terkandung nilai luhur dalam setiap motifnya.

Ende ternyata luar biasa. Pasca mengunjungi Nggela, kembalilah ke Moni dan menginap disana, dan bila sore menjelang dengan cuaca dingin sempatkan diri anda untuk merasakan hangatnya air panas Lia Sembe. Letaknya yang tidak jauh (sekitar 4 km) dapat ditempuh dengan kendaraan roda-2 (tersedia para tukang ojek yang tergabung dalam wadah ojek Kelimutu) siap membawa anda menuju tempat ini.

Mengeksplorasi Flores dan khususnya di Ende tentu akan memberikan kepuasan tersendiri bagi para wisatawan. Tidak perlu mengeluh dengan fasilitasnya, karena eksotisme tempat-tempat diatas akan menghilangkan semuanya.

Meneruskan perjalanan ke arah timur, berhentilah sejenak di sekitar Koramera, sebuah ngarai sebagai “perkampungan monyet” akan menjadi suguhan lain tepat di tepi jalan trans Flores. Diujung jalur Koramera, sebuah landscape berbeda akan menjadi “penawar” tersendiri bagi pengunjung karena dapat menikmati kampung tua bernama Wolosambi dari ketinggian serta perkampungan lain di lembah Wolowaru.

Selepas wolosambi, sekitar 4 km, para wisatawan dapat menikmati sebuah kampung adat lain bernama Wolofeo, dan jika tidak memiliki waktu banyak, abadikan perkampungan adat tersebut dari tepi jalan. Deretan rumah adat yang berada di lembahnya seolah menjadi pagar pelindung sempurna bagi sebuah tempat diatas bukir kecilnya yang menjadi pusat ritual dalam tradisi Suku Lio bernama Hanga/Kanga. Sebuah atraksi budaya bernama Gawi, yaitu sebuah tarian massal oleh laki-laki dan perempuan biasanya dilaksanakan pada saat upacara adat dan pada saat pergantian tahun.

Terus kearah timur, kampung tua di Wolowaru Wawo (Desa Lisedetu) yang terletap persis ditepi jalan trans Flores siap menyapa anda saat tiba di Wolowaru, seolah menjadi pintu gerbangnya saat anda melakukan perjalanan dari arah barat Flores. Beberapa rumah adat berderet di lokasi tersebut yang merupakan pusat dalam ritual tradisi masyarakat di wilayah tersebut. Bila sempat, jangan lupa untuk memasuki salah satu rumah adatnya dan please contact Bapak Riza Patty yang juga merupakan kepala desa tersebut.

Bagi wisatawan yang membawa kendaraan pribadi atau carteran, alangkah menariknya bila menyempatkan diri juga untuk berkunjung ke pantai Mbuli Waralau yang tergenal dengan hamparan bebatuan uniknya di tepian pantai serta deburan ganas ombaknya yang terkenal. Disini, deretan perahu yang bertebaran disepanjang pantai seolah menyapa anda untuk tidak ketinggalan mengabadikan moment saat berada di pantai tersebut. Sedikit ke tempat yang lebih tinggi, hamparan Laut Sawu nan biru dengan gradasi warna nan elok akan memanjakan mata setiap pengunjung yang datang ke tempat ini.

Puas menikmati wilayah lain di Ende, sempatkan diri anda untuk menapaki perkampungan yang memiliki kekhasan tersendiri dengan 3 undakan besarnya mengajak anda untuk merasakan sensasi lain di kampung tersebut. Sebuah perkampungan tradisonal yang terkenal sebagai penghasil coklat (kakao) dan menjadi salah satu produsen tetap coklat bagi salah satu perusahaan coklat di Swis. Luar biasa.

Atraksi budaya di kampung Wolosoko biasanya dilaksanakan pada periode Juli setiap tahun dalam ritual Mbama serta tarian tradisional bernama Gawi menjadi atraksi menarik di perkampungan tersebut.

Bila pagi menjelang, Sunrise sempurna dapat ditangkap di kampung tersebut yang dilengkapi dengan panorama indah nan elok saat kita mengarahkan pandangan kita ke arah selatan dengan hamparan Laut Sawu serta Gunung Kelibara di bagian baratnya.

Meneruskan perjalanan selepas kampung Wolosoko hingga Kampung Watuneso terdapat sebuah spot menarik tepatnya di wilayah bernama Tana Beta (tana = tanah; beta = putus), sebuah pertautan dari 2 bukit terpisah yang menjadi penghubung jalan trans Flores. Mengarahkan pandangan anda ke selatan, sebuah perkampungan bernama Ndori, dengan hamparan Lau Sawu terpapar diantara Gunung Mole Kelisamba.

Jumat, 09 Mei 2014

Ende Jadi Pusat Pelabuhan Laut di Selatan Flores

Bupati Ende Marselinus Y.W Petu mengatakan, pemerintah akan berupaya meningkatkan status Pelabuhan Ende menjadi Pusat Pelabuhan Laut di Selatan Pulau Flores.

“Untuk itulah pemerintah bertekad terus meningkatkan sarana dan prasarana di Pelabuhan Ende,” kata Bupati Marsel di sela – sela acara penerimaan masuknya Kapal Roro KM Dharma Fery II di Ende, Sabtu (3/5).

Bupati Marsel menuturkan, sebagai pusat pelabuhan laut, pastinya segala macam bongkar muat , baik penumpang maupun barang akan dipusatkan di Pelabuhan Ende. Dengan demikian, mobiltas penumpang dan barang semakin ramai.

Menurutnya, pengguna sarana pelabuhan laut ini bukan saja warga kabupaten Ende tetapi juga kabupaten lainnya seperti Nagekeo dan Ngada. Pemerintah juga akan memberikan kenyamanan kepada para pengguna jasa sehingga mereka akan kembali menggunakan sarana yang ada di Pelabuhan Ende ini.

Sementara itu Wakil Bupati Ende H. Djafar H. Achmad mengatakan, untuk bisa memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengguna jasa transportasi laut, akan dibuat satu sistem yang memperlancar transportasi di Pelabuhan. Bekerjasama dengan stakeholder terkait, diharapkan sistem ini bisa lancar sehingga pengguna jasa bisa merasa aman dan nyaman.

Dia menyebutkan, sistem yang digunakan adalah Sistem Laut dan Darat. Artinya, ada koneksitas antara yang ada di laut dengan di darat. Contohnya, ketika para pengguna jasa transportasi laut turun, maka diterima dengan transportasi darat yang sudah disiapakan.

“Kita kerja sama dengan Pelindo, Syahbandar,pengusaha angkutan darat dan serta tenaga bongkar muat, sehingga penumpang yang turun di pelabuhan merasa nyaman karena diarahkan dari laut ke darat dengan sarana yang sudah disiapkan,” katanya.

Mudah-mudahan, kata dia, keamanan di pelabuhan ini juga terjamin sehingga sehingga pelabuhan ini menjadi pelabuhan ternyaman dan teraman.