WELCOME TO ENDE FLORES KOTA RAHIMNYA PACASILAKOTA RAHIMNYA PACASILA

Thursday, April 30, 2015

Dana Rp 90 M Mengalir ke 159 Desa di Matim

Ruas Jalan Desa

BORONG -- Dana senilai Rp 90.339.284.400 dalam waktu dekat akan mengalir ke Kabupaten Manggarai Timur (Matim). Dana yang bersumber dari APBN dan ADDK 2015 itu untuk menggenjot pembangunan di 159 desa di Matim.

Wakil Bupati Matim, Agas Andreas, menjelaskan hal itu ketika ditemui di ruang kerjanya, Jumat (24/4/2015).

Agas merincikan, dana 90.339.284.400 itu masing-masing bersumber dari APBN Rp 43.897.626.000 dan ADDK Rp 46.441.658.400. Dana tersebut akan dialokasikan ke desa setelah peraturan bupati terkait operasional pengelolaan dana tersebut keluar.

"Peraturan bupati sudah disiapkan. Kalau peraturan itu sudah keluar maka dana itu dicairkan. Tapi sebelumnya para perangkat desa yang mengelola dana itu diberi pendidikan dan pelatihan," kata Agas.

Dikatakannya, pagu anggaran yang dialokasikan ke masing-masing desa berbeda-beda sesuai indikator yang dipakai, seperti jumlah penduduk, angka kemiskinan, luas wilayah dan kesulitan geografis yang ditentukan dengan Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK).

Desa yang menerima dana tertinggi, jelas Agas, yakni Desa Lembur, Kecamatan Kota Komba Rp 646.835.635, dengan sumber dana APBN Rp 314.310.092 dan ADDK Rp 332.525.543. Sedangkan pagu terendah Desa Bangka Kuleng, Kecamatan Poco Ranaka Rp 528.256.216, dengan sumber dana APBN Rp 256.821.230 dan ADDK Rp 271.704.985.

"Kalau ada yang bertanya kenapa setiap desa pagu anggaran tidak sama, tentu ada indikatornya berdasarkan kriteria yang ada. Kita harapkan dana ini bisa dikelola dengan baik oleh desa untuk pembangunan desa itu sendiri," kata Agas.

Menurut Agas, yang paling penting agar dana itu harus dimanfaatkan untuk mengembangkan perekonomian desa serta infrastruktur di desa yang lebih baik. Misalnya perbaikan jalan desa sehingga dapat membuka akses ke lahan produksi pertanian, pembuatan irigasi di desa, serta program yang bermanfaat untuk kepentingan masyarakat di desa.

Wednesday, April 29, 2015

BUPATI ENDE RESMIKAN LAYANAN KREDIT BANK NTT

KANTOR BANK NTT CABANG ENDE

Bupati Ende, Marselinus Y.W Petu meresmikan Layanan Kredit Bank NTT yang berlangsung di Halaman Kantor Bank NTT Cabang Ende, Senin (27/4/2015) yang ditandai dengan pemukulan gong. Hadir dalam acara tersebut Wakil Bupati Ende, Djafar Achmad, Dirut Bank NTT, Daniel Tagu Dedo serta para pimpinan, badan dan dinas lingkup Pemkab Ende serta para karyawan Bank NTT Cabang Ende juga anggota koperasi.

Dalam sambutan, Bupati Marsel mengatakan kehadiran Bank NTT di Pulau Flores dan khususnya Kabupaten Ende telah banyak membantu masyarakat dan Pemerintah Kabupaten terutama dalam meningkatkan perekonomian masyarakat. Bupati Marsel menjelaskan bahwa kontribusi nyata Bank NTT ini dapat dilihat dari berbagai layanan yang disediakan yang bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat dengan mengedepankan manajemen yang makin profesional.

Bupati Marsel meyakini prestasi Bank NTT dengan menyandang predikat terbaik dan sehat untuk Bank Pembangunan Daerah di Indonesia salah satunya karena Bank NTT mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap pengembangan usaha kecil dan menengah di wilayah pelayanannya. “Saya sangat yakin salah satu indikatornya karena Bank NTT ini mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap pengembangan usaha kecil dan menengah di wilayah pelayanannya sehingga Predikat terbaik dan Bank Sehat yang disandang Bank NTT Tahun 2010 lalu tidak terlepas dari partisipasi masyarakat NTT termasuk masyarakat Kabupaten Ende terhadap Bank NTT,”kata Bupati Marsel.

Ia menambahkan kepedulian Bank NTT yang bekerja sama dengan Veco Indonesia serta mitranya dengan menyediakan dan memberikan dukungan layanan kredit modal kerja dan investasi kepada koperasi petani kopi, kakao dan beras merupakan salah satu upaya nyata dan sinergis memberikan kontribusi dalam pengembangan sektor pertanian serta pengembangan kompetensi kewirausahaan para petani kopi, kakao dan beras di Flores demi meningkatkan produktivitas masyarakat petani dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Bupati Marsel memberikan apresiasi kepada Bank NTT dan Veco Indonesia serta mitranya atas bentuk dukungannya dalam mengembangkan usaha pertanian. “Atas nama pemerintah daerah dan masyarakat saya memberikan apresiasi khusus dan penghargaan yang tinggi untuk semua bentuk dukungan yang telah diberikan. Kiranya dukungan ini dapat memberikan motivasi bagi para petani kita untuk mulai mengembangkan usaha pertanian mereka secara lebih baik dengan mengembangkan manajemen pertanian yang profesional,”ujar Bupati Marsel.

Sumber (Ria Humas Setda

PEMBANGUNAN PARIWISATA FLORES HARUS SATU KESATUAN

Pembangunan kepariwisataan di Pulau Flores harus dilakukan satu kesatuan dan tidak sendiri-sendiri. Koordinasi antar Kabupaten menjadi penting, sehingga adanya sinergisitas dalam mengembangkan pariwisata Flores.

Wakil Bupati Ende, Djafar Ahmad mengatakan ini saat menjawab pertanyaan Ketua Arsita Ende Celi Taso yang mempertanyakan masih lemahnya koordinasi diantara kabupaten dalam mengembangkan pariwisata di wilayah ini pada kegiatan Sosialisasi Pemasaran Pariwisata di Pintu Masuk Utama dan sekitaranya di Aula Hotel Mentari, Jln. Pahlawan (Rabu, 29/4/15).

Wabup Djafar mengakui sinyalemen masyarakat yang melihat koordinasi antar kabupaten masih lemah memang benar adanya. Kondisi ini tentunya harus mendapat perhatian serius dari pemerintah Kabupaten di Pulau Flores untuk mengembangkan konsep pembangunan kawasan kepariwisataan. “Jadi untuk mengembangkan potensi pariwisata di Pulau Flores ini, kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri, tapi harus bisa saling berkoordinasi antar kabupaten kalau emang ingin pariwista di pulau kita ini maju dan berkembang”tandasnya.

Pemkab Ende sendiri demikian Wabup akan berupaya membangum koordinasi dan komunikasi yang baik dengan kabupaten-kabupaten lainnya dalam mengembangkan kepariwisataan di Pulau Flores pada umumnya dan Kabupaten Ende khususnya.

Ia menuturkan, setiap kabupaten harus mempunyai semangat dan kemauan yang sama untuk mempromosikan potensi-potensi pariwisata yang dimiliki tiap kabupaten. Hal ini dimaksudkan apabila ada kunjungan wisatawan mancanegara pada satu kabupaten, maka harus ada kemauan baik dari kabupaten tersebut untuk juga mempromosikan potensi pariwisata lainnya yang ada di Pulau Flores. Ini dimaksudkan agar dengan mengetahui potensi-potensi pariwisata yang dimiliki kabupaten lain maka wisatawan dapat mengagendakan untuk juga mengunjungi potensi-potensi pariwisata yang ada di kabupaten-kabupaten lainnya di Flores ini.

Ia meyakini, apabila sistem promosi pariwisata seperti yang dikembangkan ini, maka akan mempemudah pembangunan dan pengembangan potensi pariwisata yang ada di pulau Flores. Dan ini tentunya akan membawa dampak ikutan bagi peningkatan ekonomi masyarakat khususnya bagi daerah-daerah yang dikunjungi wisatawan.

(Humas Ende/Helen Mei (eln))

Jeritan Rakyat

Jeritan Rakyat
Oleh Montanus G.Sore

Hukum tumpul keatas, tajam kebawah
Makin tumpul, makin tajam 
Tumpul mencederai tatanan hukum
Dan tajam melukai hati rakyat
Mata ini belum buta menatap tak adil
Telinga ini belum tuli mendengar keluh
Penindasan ramai didendang
Rakyat pun digadaikan
Mau dibawa kemana negeri ini?
Mau dibawa kemana nasib rakyat?
Ketika keadilan hendak ditegakan
Keadilan mulai diperjuangkan
Moral kemanusiaan dipertaruhkan
Nyawa sesamamu jadi imbasnya
Tetanggamu kini kecewa
Tetanggamu kian mencibir
Luka batin kian menganga
Tali persaudaraan jadi renggang
Ini salah siapa?

Surabaya 28 April 2015

Fenomena Alam, Danau Kelimutu di Kabupaten Ende Kembali Berubah Warna

 Danau Kelimutu

ENDE -- Kepala Seksi (Kasie) Wilayah 1 Moni pada Balai Taman Nasional Kelimutu (TNK), Benediktus Rio menjelaskan pihaknya kerap mendapatkan komplain pengunjung saat berkunjung ke Danau Kelimutu.

Pasalnya danau yang dikenal dengan tiga warna toh pada Januari hingga Maret 2015 menjadi satu warna yang dominan yakni warna hijau namun sejak 24 Maret 2015 keberadaan Danau Kelimutu menjadi tiga warna yakni pada danau yang dikenal dengan Danau Tiwu Ata Polo menjadi warna merah hati ayam sedangkan danau Nuamuri Koo Fai menjadi dominan putih sedangkan danau Ata Mbupu menjadi hijau.

Hal ini dikatakan Benediktus menjawab Pos Kupang ketika dikonfirmasi mengenai perubahan warna pada Danau Kelimutu, Rabu (29/4/2015).

Menjawabi komplain pengunjung ujar Benediktus pihaknya menjelaskan bahwa itu semua tergantung alam namun dalam hatinya dia berkelakar ya nanti kami kasih warna agar bisa menjadi tiga warna sesuai dengan keinginan pengunjung.

Benediktus mengatakan secara umum keberadaan Danau Kelimutu kerap berubah-ubah warna serta pada Tahun 2015 sesuai dengan pengamatan pihaknya telah terjadi sebanyak dua kali yakni pada Bulan Januari 2015 dan Bulan Maret 2015.

"Iya danau kerap berubah bahkan terkadang perubahannya sangat mendadak karena bisa saja di pagi hari berwarna lain sore hari sudah berwarna lain bahkan pada suatu saat kami sempat mengamati di Danau Tiwu Ata Polo terdapat dua warna yakni di seluruh area danau dominan warna merah hati ayam sedangkan di tengahnya justru terdapat satu titik warna hijau,"kata Albertus.

Tentang perubahan pada Danau Tiwu Nua Muri Koo Fai, Albertus mengatakan bahwa perubahan tersebut kerap ditandai dengan bunyi gemuruh yang cukup keras.

Hal itu dikarenakan adanya aktivitas vulkanik yang ada dalam danau tersebut.

Aktifitas vulkanik ditandai dengan banyaknya asap yang keluar dari dalam kawah gunung. "Kami selalu berkoordinasi dengan pihak vulkanalogi untuk mengetahui sedini mungkin arti dari peningkatan aktivitas vulkanik yang terjadi di Danau Kelimutu khususnya di Danau Tiwu Nua Muri Koo Fai sehingga dengan demikian bisa diambil langkah-langkah terkait dengan peningkatan aktifitas vulkanik tersebut,"kata Albertus.

"Memang ada peningkatan aktivitas meskipun skalanya masih kecil,"tambahnya.*

Sumber. Pos Kupang

Tuesday, April 28, 2015

LOMBA FOTO PONSEL 2015 BERTEMA "SISI LAIN TAMAN BUNG KARNO ENDE"

LOMBA FOTO PONSEL 2015 Di PERPANJANG Periode Pendafataran 1 Mei s/d 30 Mei 2015
dipersembahkan Oleh Relawan Pecinta Taman Bung Karno Ende.... Jepret, Unggah dan Menangkan Hadiahnya..

Sarat dan Kentuan Lomba
- Membeli PIN Relawan Sebesar Rp.10.000,- Untuk Biaya Pendaftaran
- Foto menggunakan Kamera Handphone
- Khusus untuk pelajar SMA/SMK sederajat seKab. Ende
- Foto Original Pribadi dari peserta dan tidak pernah dipublikasikan
- Hasil Foto dimasukkan Kolom Dinding FB dengan Cara me LIKE FB Relawan Pecinta Taman Bung Karno Ende
- Setiap Postingan Foto di FB harus ada keterangan Nama Lengkap,Alamat Sekolah, merk HP, Judul Foto, Cerita Objek Foto di Taman Renungan Bung Karno Ende
- Editing Foto diperbolehkan sebatas editing (Brigthness/contras,Levels, Hue/Saturation dan Croping tidak diizinkan lebih dari 10%.
- Foto yang diLombakan di Kirim ke alamat
Email : relawanpecinta_tamanbungkarno@yahoo.com
- Periode Pendafataran 1 Mei s/d 30 Mei 2015
- Pengumuman Pemenang Tanggal 1 Juni2015

Juri
- Tuteh Pharmantara (Jurnalis Warga)
- Martozo Han (Komunitas CaFe Ende)
- Wilfrid Wasa (Arsitek Videographer Cupudalang)
- Ian Bala (Wartawan Flores Bangkit)

Hadiah
- Juara 1 Uang Tunai Rp.750.000,-
- Juara 2 Uang Tunai Rp. 500.000,-
- Juara 3 Uang Tunai Rp. 250.000,-

INformasinya
- 085 234 543 731
- 085 239 014 948

Mukhlis A. Mukhtar

Percetakan Arnoldus Ende Merupakan Percatakan Pertama di Flores

 Percetakan Arnoldus Ende

Percetakan Arnoldus punya sejarah panjang. Inilah karya penting Societas Verbi Divini (SVD) atau misionaris Serikat Sabda Allah yang terbukti ikut menyumbang kemajuan masyarakat. Produk cetak yang dihasilkan amat berpengaruh pada jamannya. Tak cuma di daratan Flores namun hingga wilayah bagian Timur Indonesia.

Sebuah pesan kawat tiba di Styel, desa kecil dekat perbatasan Jerman dan Belanda, pada 8 Januari 1926. Sang pengirim Pater Regional Stenzel meminta mesin-mesin cetak yang dia pesan segera dikirim ke Flores. Tak sampai tiga bulan kemudian, sebuah kapal membongkar muatan sebanyak 50 peti. Dua diantaranya ukuran besar, masing-masing seberat 800 Kg dan 500 kg.

“Mesin-mesin tua itu dibeli di Berlin-Jerman atas perintah dari Uskup Ende kedua Mgr. Arnoldus Vestraelen,” demikian bunyi kalimat dalam buku kronik Ambachtschool tentang peristiwa itu.

Digambarkan dalam catatan itu bahwa pengiriman pesanan berharga f 15.000 itu berlangsung lancar hingga masuk ke dalam tangsi tua tanpa mengalami kerusakan yang berarti.

Pater regional, Stenzel sendiri baru memimpin upacara peletakan batu pertama pendirian komplek bangunan Ambachtschool pada 21 Mei 1926. Sehari kemudian, Moroe dan Ignas Suban dari Larantuka datang sebagai pekerja pertama pecetakan itu dibawah pimpinan Br. Viator. Kedua pekerja itu sendiri berasal dari Syanghai. Mereka berangkat pada Juli 1925 dan beberapa waktu lamanya bekerja di Larantuka dan Maumere.

Pada Tahun 1929 datang lagi satu mesin cetak berukuran besar Snelpers yaitu Planeta berasal dari Dresden-Jerman. Nama lengkap mesin itu ialah Planeta-Rapid dan dalam logat teknis menyebutkan Illustrations Buchdruckscnellaufer.

Tahun 1931, datang lagi mesin susun Typograaf berasal dari Berlin dan sebuah mesin jilid berkawat Bremer Leipzig dan satu buah mesin potong kertas Dreischneider dari Krause-Leipzig, semuanya dari Jerman. Tahun 1938 dari Koebau di Wurzburg-Jerman mengirim satu mesin cetak tangan model Boston dan satu Degelpers selain Planeta dan REX III sebuah mesin cetak.

Tahun 1947 datanglah mesin susun Linotype dan tahun 1949 sebuah mesin jahit untuk bagian penjilidan. Tahun 1950 menyusul Snelpers Victoria Front, dalam Tahun 1953 menyusul mesin jenis Heidelbergerdegel, Tahun 1954 mesin jenis Perforasi. Pada Tahun 1958 sebuah mesin Snelpers modern dengan nama President.

Percetakan Arnoldus saat ini menggunakan 6 mesin yakni mesin cetak, mesin jilid dan mesin potong. Sementara dua mesin tua tidak difungsikan lagi.

Hasil Cetakan
Kronik Ambachtschool juga mencatat bahwa pada tanggal 21 Juni 1926 telah dicetak lembar pertama teks doa perambatan injil berjudul Sende Aus dalam bahasa Melayu dan diucapkan dalam Upacara Ekaristi yang untuk pertama kalinya dipimpin oleh Pater Stenzel dalam Kapel Rumah Biara Santo Josef.

Terbitan sederhana itulah awal sumbangsih percetakan pertama di Nusatenggara bernama Arnoldus di sebuah bangunan bekas yang kini sudah tak ada lagi. “Sende Aus” yang berarti utuslah itu dimanfaatkan sebagai nama majalah yang terbit pada 26 Oktober 1926.

Edisi perdananya tampil dengan gambar sampul berjudul “Kristus Ratu Itang” Majalah sederhana untuk ukuran sekarang karena Cuma 16 halaman saja. Pater Frans Mertens dipercaya memimpin penerbitan yang kemudian mencapai tiras 3000 eksemplar dan dijual seharga 2 ½ sen per nomor.

Selain itu sebuah majalah bulanan bernama “Bintang Timur” diterbitkan pada 1928 oleh tim kerja yang dipimpin Pater Fries. Namun Pater Cornelissen pemimpin berikutnya memutuskan untuk berpindah ke percetakan Kanisius di Jogyakarta.

Selain mencetak dan menerbitkan publikasi masalah keagamaan, penerbitan lain menyangkut masalah sosial masyarakat seperti masalah pertanian, pendidikan, keluarga dan sejarah.

Hasil cetakan penting lain yang membuat percetakan ini makin popular adalah almanak St. Mikael yang terjual hingga lebih dari 4000 eksemplar. Lebih hebat lagi, buku nyanyian gereja Jubilate yang mengalami cetak ulang lebih dari 10 kali dan terus diperbaharui gaya Bahasa dan ragam lagu mengikuti perubahan jaman.

Penerbitan lain berupa buku-buku ilmu pengetahuan terutama hasil karya ilmiah di bidang bahasa, penelitian mengenai agama dan kebudayaan. Misalnya kamus bahasa Lio, Gramatik bahasa Sikka dan bahasa Solor, juga buku-buku pelajaran agama dalam Bahasa Melayu dan Bahasa-bahasa lokal. Tentu jumlah cetakan jenis ini lebih sedikit.

Sebelumnya, pada Januari 1927, sebuah lembaran berita yang mula-mula bernama “Vergissmeinnicht” untuk lingkungan biarawan SVD, kemudian berganti nama menjadi “Endepost” dan terakhir menjadi Berita Regio Ende.

Setelah kemerdekaan, pada tahun 1946 terbitlah majalah dua mingguan “Bentara” dengan redakturnya Pater Conterius, kemudian Pater M. Malar dan terakhir Frans Tan. Majalah dua mingguan ini bertahan hingga tahun ke-13 dan mencapai 35.000 eksemplar. Peredarannya cukup luas hingga jauh ke pulau-pulau lain di Indonesia sampai saat berhentinya dalam tahun 1961.

Sepeninggal Bentara di usianya yang ke 15, muncul lagi majalah “Dian” dan “Kunang-Kunang.” Majalah dua mingguan “Dian” untuk kalangan umum dan beroplaag 6.500 dan “Kunang-Kunang” untuk anak-anak dan beroplaag 12.000 pimpinan redaksi dua majalah ini adalah Ben Oleona dan Sr. Emmanuel OSU.

Sejak mula percetakan Arnoldus bertindak juga sebagai penerbit buku-buku dan majala-majalah. Semuanya masih dalam rangkah perkembangan. Sampai tiba waktunya percetakan Arnoldus mempunyai sebuah cabang sendiri sebagai penerbit dengan nama “Nusa Indah” dan juga menjual buku melalui toko buku Nusa Indah.

Dengan cara demikian suatu rencana yang lebih teratur untuk percetakan dapat disusun oleh Penerbit Nusa Indah dan hsil percetakan dapat disalurkan ke pasar buku seluruh Indonesia.

Saat ini percetakan Arnoldus merupakan salah satu unit perusahan PT Arnoldus Nusa Indah (PT ANI) yang masih terus beroperasi dan bersaing dalam percetakan untuk wilayah Flores dan sekitarnya.

Jujur dan Taat
“Belajar mencetak memang cukup sulit. Yang sulitnya adalah sistem percetakan dan saya belajar bertahun-tahun. Saya mulai cetak pertama buku menulis. Cetak hanya garis-garis horizontal saja tetapi sulit sekali karena harus diatur tebal dan tipisnya,”ujar Kosmas Wadhi, salah seorang mantan karyawan yang mulai bekerja pada tahun 1965.
Kosmas Wadhi mulai bekerja dengan gaji Rp 30 sebulan tahun 1965. Foto Ian Bala

Kosmas Wadhi mulai bekerja dengan gaji Rp 30 sebulan tahun 1965. Foto Ian Bala

Saat memulai pekerjaannya, Kosmas mendapat arahan dari dua Bruder asal Flores yaitu Bruder Benjamin Ade yang berasal dari Sikka dan Bruder Vinsen Bao yang berasal dari Ndora-Nagekeo. Keduanya saat itu baru selesai mengikuti pelatihan percetakan di Jerman. Direktur Percetakan Pater Neuhaus memang menghendaki Kosman menjalankan tugas itu.

Dengan honor awal sebesar Rp 30 sebulan, Kosmos memulai karirnya dengan kepatuhan dan kejujuran sebagai aturan utama yang harus ditaati sesuai Misi SVD. Setiap tahun ada perubahan honorer dan pada akhir ia pensiun Tahun 2003, ia menerima Rp 800.000 gaji pokoknya.

“Waktu itu, honor sebesar itu sudah lumayan untuk kebutuhan hidup. Tapi sebenarnya bukan honor yang kita tuntut tetapi pengabdian terhadap misi itu yang kami jalankan. Syukur kami sudah mengenal mesin dan bisa mencetak buku-buku, ”ujar dia. pria tamatan sebuah Sekolah Menengah Pertama ini.

Apa yang dia jalani selama empat dekade hidupnya itu membuat pria tamatan sebuah SMP ini merasa bangga. Pengabdiannya bersama Misi SVD berpengaruh besar terhadap perkembangan masyarakat Flores umumnya, bahkan hingga ke wilayah lain.

Yohanes Ben Ngouth, 84 tahun, warga Jalan Irian Jaya-Ende, sepakat dengan penuturan itu. Kakek yang biasa dipanggil Yan Ngouth itu bekerja dalam kurun waktu 1947 hingga pensiun pada tahun 1984. Dia bertanggungjawab mengoperasikan sebuah mesin cetak Boston dan mesin jenis REX III.
Yohanes Ben Ngouth bangga pengabdian panjangnya memberi arti. Foto Ian Bala

Yohanes Ben Ngouth bangga pengabdian panjangnya memberi arti. Foto Ian Bala

“Dulu kami cetak dengan menggunakan mesin offset. Memang sulit karena kita harus susun huruf dahulu sesuai abjadnya dan ditempel di plat.”kata mengenang tugas-tugasnya di bawah supervisi Bruder Benjamin dan Bruder Vinsen.

Delapan orang karyawan percetakan ini bekerja dengan disiplin tinggi dan kejujuran. Mesin-mesin baru selalu datang menggantikan yang tua dan rusak. Setiap mesin baru datang, mereka mesti belajar kembali karena karakternya selalu berbeda. .

”Sudah banyak rohaniwan asing dan lokal yang menerbitkan buku-buku. Saya cukup bangga dengan kehadiran percetakan ini karena sangat membawa hal yang positif,”tambah dia.

Penulis : Ian Bala
Editor: Donny Iswandono
www.floresbangkit.com