WELCOME TO ENDE FLORES KOTA RAHIMNYA PACASILAKOTA RAHIMNYA PACASILA

Jumat, 16 Mei 2014

Mengunjungi Ende, Apakah Hanya Kelimutu?


 Pantai Penggajawa Kabupaten Ende

Ende, sebuah daerah interniran dimasa penjajahan Belanda ternyata memiliki aneka potensi lokasi yang layak untuk didatangi, dimana orang mungkin hanya mengenal Kelimutu yang yang menakjubkan dengan danau tiga warna-nya, karena itulah “komoditas” andalah untuk dunia pariwisata di Ende. Benar nyatanya memang demikian. Tetapi apakah benar hanya Kelimutu destinasi yang layak di kunjungi di wilayah Kabupaten Ende?

Sebuah kabupaten yang letaknya persis ditengah jantung Pulau Flores ternyata masih menyimpan begitu banyak pesonanya yang secara perlahan mulai terkuak dan memanggil para penikmatnya untuk mulai mengeksplorasi lebih jauh apa saja yang dipunyai Ende.

Terdapat begitu banyak destinasi yang dapat menjadi pilihan bagi siapapun yang hendak mengunjungi Ende, mulai dari wisata sejarah, panorama alam pegunungan dan pantai-pantai cantiknya, budaya, kerajinan dan beragam hal lainnya dapat ditemukan di Ende.

Tetapi mulai sekarang, beragam destinasi telah ditawarkan saat kita mengunjungi wilayah kabupaten tersebut. Mulai dari ibukota kabupaten, kita telah ditawarkan untuk segera menapaki jejak sejarah negeri ini, dimana sebuah museum Bung Karno siap menanti anda untuk lebih mendalami asal-usul tercetusnya Pancasila sebagai landasan dari republik tercinta ini. Pasca renovasi yang telah dilakukan, Ende sangat tepat dijadikan sebagai pusat peringatan kelahiran Pancasila seperti beberapa waktu lalu saat Wakil Presiden Budiono serta Alm. Taufik Kiemas menjejakan kakinya untuk memperingatinya.

Setelah itu? Jangan bergeser dulu dari Ende. Sebuah kawasan pantai eksotis dengan kekhasannya tentu menanti anda untuk didatangi. Pantai Batu Hijau yang saat ini telah menjadi salah satu sendi ekonomi warga setempat menawarkan pesona yang beda dibandingkan dengan pantai cantik lainnya dan menjadi sebuah spot luar biasa untuk menantikan datangnya sang senja.

Masih diseputaran Kota Ende, tentu kita juga tidak ingin melewatkan begitu saja keindahan Pantai Ria yang terletak tepat di Beranda Kota Ende, disamping beberapa bangunan tua nan eksotik seperti Gereja Katedral Ende. Sudah cukup?

Bergeser kearah timur, kita dapat mengunjungi Pantai Mbuu, sebuah pantai indah yang menawarkan landscape menarik untuk diabadikan oleh kamera anda. Sebuah potret landscape yang cukup lengkap dapat ditangkap pada spot ini, dan kita dapat melanjutkan menuju Kampung Ndona, yang menawarkan keindahan corak dalam kerajinan tenunnya.

Ende ternyata tidak ada habisnya. Sebelum menuju Kelimutu, kita disuguhi beragam panorama dengan alam pegunungan dan lembah dalam dengan dasarnya mengalir air nan jernih. Ingin merasakan? Jangan lewatkan, kita dapat merasakan saat ingin mencemplungkan diri ke sungai yang bersumber dari pegunungan tepat di tepi jalan trans Flores atau di sekitar jembatan KM-10. Bila musim penghujan, mulai dari lokasi tersebut, kita dapat menikmati beberapa air terjun yang berada disisi kiri jalana trans Flores kearah timur.

Lepas dari kota Ende, sekitar 30-an km, kita memasuki sebuah wilayah bernama Detusoko dengan ragam pesona tersendiri. Hamparan sawah berundak akan menjadi suguhan menarik di wilayah tersebut dan bila sedang musim tanam atau musim panen tiba, jangan lewatkan kesempatan untuk berbaur bersama masyarakatnya yang ramah, merasakah lumpur sawah atau sekedar mengambil gambar sebagai pelengkap cerita anda. Bila kemalaman, sebuah penginapan sederhana dapat menjadi tempat istirahat anda di wilayah ini sambil menikmati hangatnya spot wisata air panas bernama Ae Oka.

Lepas dari Detusoko terdapat 2 pilihan, apakah kita ingin meneruskan kearah timur, atau mencoba menerobos ke arah utara. Disana, sebuah pantai nan eksotis siap menjamu kita dengan landscapenya yang luar biasa, sebuah hamparan pantai berpasir putih dengan laguna indah bernama Pantai Anabara seolah menjadi tempat pilihan untuk menikmati kebesaran Tuhan, membaur bersama penduduk lokal yang ramah dan merasakah dan membayangkan seolah pantai ini menjadi pantai pribadi anda. Ah, itu baru awalnya.

Kembali ke Detusoko, menuju arah timur, saat memasuki ekoleta yang sangat terkenal sebagai penghasil beras organik dan suguhan sawah berundak, silakan berbelok menuju sebuah kampung bernama Wolojita dengan suguhan deretan rumah adat serta jenazah yang disemayamkan diatas pohon beringinnya, dan seratus meteran dari kampung tersebut, dengan sedikit tanjakan saat berjalan kaki, sebuah kampung adat lainnya juga siap menyambut anda.

Selepas tanah lapang yang biasa digunakan untuk parkiran kendaraan, kita sudah disambut oleh rumah-rumah adat di kampung Wolondopo dengan bubungan tinggi dan ilalang yang menjuntai, sebuah kampung eksotis seolah sangat disayangkan untuk tidak diabadikan pada kamera anda.

Bila waktunya cukup, kita dapat menemui sang juru kunci kampung tersebut yang juga merupakan kepala sukunya untuk melihat mumi bernama Kaki More. Eits…..sabar dulu, untuk melihat mumi tersebut, biasanya dilaksanakan ritual terlebih dahulu oleh sang penerusnya, sebagai sebuah penghormatan atas tradisi dan sebuah kearifan lokal yang tentu perlu terus lestari.

Selepas kampung adat Wolojita dan Wolondopo sebuah situs berusia sekian abad akan menanti anda untuk dinikmati dan mengajak anda untuk kembali ke masa ratusan tahun silam, dalam keramahan masyarakatnya pada sebuah kampung adat dibawah kaki Gunung Lepembusu bernama Wologai.

Sebuah kampung adat yang selalu bangkit kembali termasuk terakhir saat mengalami kebakaran hebat pada Oktober setahun silam, seolah menjadi bukti akan spirit yang luar biasa dalam mempertahankan lestarinya adat istiadat warisan leluhurnya.

Kembali ke jalur trans Flores, panorama alam dengan hamparan pegunungan dan lembah serta areal persawahan bertingkat akan menjadi suguhan menarik selanjutnya hingga memasuki Kampung Ndua Ria, dimana sebuah pasar tradisional akan menawarkan pesonanya tersendiri diantara deraian tawa mama-mama yang asyik menginang (makan sirih pinang), rasakan keramahan mereka. Disini, biasanya setiap kendaraan atau bus yang lewat pasti mampir untuk membeli sayur mayur berkualitas dan bagi anda penggemar sayuran organik dapat dibeli disini dengan harga yang dijamin murah.

Melewati Ndua Ria, tengoklah pada sisi kiri kendaraan anda. Sebuah landscape yang luar biasa seolah terpapar dan memanjakan mata anda yang memang menggemari spot-spot semacam itu hingga memasuki kampung Nuamuri yang terkenal sebagai penghasil kentang dan wortel.

Melewati wilayah kampung Nuamuri, kita akan tiba di Desa Koanara yang menjadi pusat persinggahan bagi para wisatawan sebelum memasuki Kelimutu. Beragam penginapan dengan harga beragam dapat anda pilih di wilayah ini, salah satunya adalah Daniel Lodge.

Bila waktunya bertepatan dengan hari pasar, please, jangan lewatkan untuk mengabadikan moment-moment menarik disini. Sebuah pasar tradisional yang menawarkan suguhan berbeda akan kita dapatkan disini. Bagi penggemar kain tenun tradisional, wisatawan dapat memperoleh ditempat ini, dengan sedikit menawar wisatawan bisa mendapatkan aneka kain tenun khas Suku Lio yang terkenal dengan aneka motif nan indah.

Selain itu, bila ingin melihatnya saja, jangan lewatkan pasar ini, karena ibarat “Cat walk” dipasar tradisional ini, kita dapat menikmati aneka motif tenunan sebagai sebuah mahakarya dari para seniman Lio dalam balutan sarung yang biasanya dikenakan oleh kaum perempuannya.

Sebelum ke Kelimutu atau sesudahnya dan bila ingin menikmati Moni dan sekitarnya lebih lama, sempatkan diri anda untuk mengunjungi sebuah situs tua dengan deretan rumah adat bernama Sa’o Ria di Koanara dan rasakan suasana berbeda saat anda memasuki gerbang Sa’o Ria yang dihiasi oleh kepala kerbau dan hubungi mama Fara bila ingin mengunjungi tempat ini. Infonya dapat diperoleh di Daniel Lodge.

Saat subuh, keramaihan seolah tidak terdengar. Ojek, ataupun kendaraan roda 4 pada saat dinihari akan terlihat sibuk mengangkut para wisatawan yang ingin merasakan sensasi lain di Kelimutu. Sunrise yang luar biasa akan menjadi pelengkap cerita anda saat mengunjungi Danau 3 warna yang nan cantik dan ditemukan pada tahun 1815 tersebut.

Bagi wisatawan minat khusus, jangan lewatkan untuk mengunjungi arboretum di kawasan sekitar Danau Kelimutu, karena disini kita seolah memasuki sebuah laboratorium alam untuk menikmati apa saja yang ada di dalam tanam nasional tersebut.

Sekembalinya dari Kelimutu, alangkah sayang bila kita tidak menyempatkan waktu untuk mengunjungi kampung adat Pemo. Sebuah kampung adat yang letaknya persis di kaki Kelimutu akan membawa suasana lain bagi para wisatawan saat memasuki situs kampung adat tersebut yang akan menyambut anda dengan deretan rumah adatnya.

Sayang bila konsentrasi wisatawan hanya Kelimutu. Kembali ke Desa Koanara - Moni, siapkan jadwal lanjutan anda yang tentunya salah satu syarat adalah perpanjanglah masa tinggal anda disini. Bila anda suka berjalan kaki, arahkanlah kaki anda sejauh 3 km ke Kampung Mbuli Lo’o, disana, wisatawan akan disuguhi langsung oleh para seniwati yang setia dalam tradisinya, yaitu menenun. Sebuah tradisi turun temurun yang tetap dilaksanakan khususnya oleh kaum perempuannya dapat disaksikan disini.

Puas menikmati sajian khas di tempat ini, jangan lupa untuk membeli kain tenunannya sebagai oleh-oleh bagi keluarga atau para kerabat anda, karena tersedia kain tenun khas Suku Lio mulai dari harga yang paling murah hingga mahal. Please, bila menawar janganlah terlalu murah, karena untuk membuat mahakarya dalam bentuk kain tenunan ternyata sangatlah rumit dan bila waktu anda cukup, anda dapat menikmati tentang tata cara pembuatan sebuah kain tenun, mulai dari pembuatan benang, teknik mengikat untuk membentuk motif hingga pewarnaan yang selalu dilakukan secara alami.

Dari kampung Mbuli Lo’o, teruslah melangkahkan kaki anda menuju selatan. Sebuah kampung adat lainnya di desa Jopu menanti anda untuk dikunjungi. Sebuah bentuk nyata dari upaya untuk mempertahankan seolah menjadi bagian dari jiwa masyarakat Suku Lio di Ende untuk terus menjaga tradisi termasuk rumah-rumah adatnya yang memiliki arsitektur unik dan pastikan juga anda untuk terus melangkahkan kaki anda menuju sebuah desa bernama Nggela yang letaknya persis di pantai selatan.

Deretan rumah-rumah adat dan sebuah kuburan tua sebagai pertanda awal dari keberadaan kampung tersebut, lengkap dengan panorama pantai selatan serta detak bunyi dari peralatan tenun tradisional akan terasa lengkap untuk diabadikan ditempat ini. Kampung Nggela sangat terkenal akan tradisi tenunannya dan pada masa lalu, ada sebuah jenis hasil tenunan yang biasanya digunakan oleh kaum bangsawan berasal dari kampung tersebut dan berharga cukup mahal karena terkandung nilai luhur dalam setiap motifnya.

Ende ternyata luar biasa. Pasca mengunjungi Nggela, kembalilah ke Moni dan menginap disana, dan bila sore menjelang dengan cuaca dingin sempatkan diri anda untuk merasakan hangatnya air panas Lia Sembe. Letaknya yang tidak jauh (sekitar 4 km) dapat ditempuh dengan kendaraan roda-2 (tersedia para tukang ojek yang tergabung dalam wadah ojek Kelimutu) siap membawa anda menuju tempat ini.

Mengeksplorasi Flores dan khususnya di Ende tentu akan memberikan kepuasan tersendiri bagi para wisatawan. Tidak perlu mengeluh dengan fasilitasnya, karena eksotisme tempat-tempat diatas akan menghilangkan semuanya.

Meneruskan perjalanan ke arah timur, berhentilah sejenak di sekitar Koramera, sebuah ngarai sebagai “perkampungan monyet” akan menjadi suguhan lain tepat di tepi jalan trans Flores. Diujung jalur Koramera, sebuah landscape berbeda akan menjadi “penawar” tersendiri bagi pengunjung karena dapat menikmati kampung tua bernama Wolosambi dari ketinggian serta perkampungan lain di lembah Wolowaru.

Selepas wolosambi, sekitar 4 km, para wisatawan dapat menikmati sebuah kampung adat lain bernama Wolofeo, dan jika tidak memiliki waktu banyak, abadikan perkampungan adat tersebut dari tepi jalan. Deretan rumah adat yang berada di lembahnya seolah menjadi pagar pelindung sempurna bagi sebuah tempat diatas bukir kecilnya yang menjadi pusat ritual dalam tradisi Suku Lio bernama Hanga/Kanga. Sebuah atraksi budaya bernama Gawi, yaitu sebuah tarian massal oleh laki-laki dan perempuan biasanya dilaksanakan pada saat upacara adat dan pada saat pergantian tahun.

Terus kearah timur, kampung tua di Wolowaru Wawo (Desa Lisedetu) yang terletap persis ditepi jalan trans Flores siap menyapa anda saat tiba di Wolowaru, seolah menjadi pintu gerbangnya saat anda melakukan perjalanan dari arah barat Flores. Beberapa rumah adat berderet di lokasi tersebut yang merupakan pusat dalam ritual tradisi masyarakat di wilayah tersebut. Bila sempat, jangan lupa untuk memasuki salah satu rumah adatnya dan please contact Bapak Riza Patty yang juga merupakan kepala desa tersebut.

Bagi wisatawan yang membawa kendaraan pribadi atau carteran, alangkah menariknya bila menyempatkan diri juga untuk berkunjung ke pantai Mbuli Waralau yang tergenal dengan hamparan bebatuan uniknya di tepian pantai serta deburan ganas ombaknya yang terkenal. Disini, deretan perahu yang bertebaran disepanjang pantai seolah menyapa anda untuk tidak ketinggalan mengabadikan moment saat berada di pantai tersebut. Sedikit ke tempat yang lebih tinggi, hamparan Laut Sawu nan biru dengan gradasi warna nan elok akan memanjakan mata setiap pengunjung yang datang ke tempat ini.

Puas menikmati wilayah lain di Ende, sempatkan diri anda untuk menapaki perkampungan yang memiliki kekhasan tersendiri dengan 3 undakan besarnya mengajak anda untuk merasakan sensasi lain di kampung tersebut. Sebuah perkampungan tradisonal yang terkenal sebagai penghasil coklat (kakao) dan menjadi salah satu produsen tetap coklat bagi salah satu perusahaan coklat di Swis. Luar biasa.

Atraksi budaya di kampung Wolosoko biasanya dilaksanakan pada periode Juli setiap tahun dalam ritual Mbama serta tarian tradisional bernama Gawi menjadi atraksi menarik di perkampungan tersebut.

Bila pagi menjelang, Sunrise sempurna dapat ditangkap di kampung tersebut yang dilengkapi dengan panorama indah nan elok saat kita mengarahkan pandangan kita ke arah selatan dengan hamparan Laut Sawu serta Gunung Kelibara di bagian baratnya.

Meneruskan perjalanan selepas kampung Wolosoko hingga Kampung Watuneso terdapat sebuah spot menarik tepatnya di wilayah bernama Tana Beta (tana = tanah; beta = putus), sebuah pertautan dari 2 bukit terpisah yang menjadi penghubung jalan trans Flores. Mengarahkan pandangan anda ke selatan, sebuah perkampungan bernama Ndori, dengan hamparan Lau Sawu terpapar diantara Gunung Mole Kelisamba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar