WELCOME TO ENDE FLORES KOTA RAHIMNYA PACASILAKOTA RAHIMNYA PACASILA

Tuesday, April 15, 2014

Melantik Bupati Ende, Guburnur Titip Lima Persoalan untuk Dicari Solusinya

Foto: Melantik Bupati Ende, Guburnur Titip Lima Persoalan untuk Dicari Solusinya

POS KUPANG.COM, ENDE -- Ir Marselinus Y.W Petu dan Drs H Djafar H Achmad, MM dilantik menjadi Bupati Ende oleh Gubernur NTT, periode 2014-2019 di Gedung DPRD Ende, Senin (7/4/2014)

Dalam sambutannya Gubernur Frans Lebu Raya menitipkan lima persoalan untuk dicarikan solusinya oleh  pasangan Marsel-Djafar.

Pertama Kota Ende suasana kebersamaan hidup di Kota Ende yang dihuni penduduk katolik dan Islam sejak dulu, telah menginspirasi Bung Karno menemukan serat - serat nilai kehidupan yang mengkristal dan dicetuskan sebagai Pancasila. Oleh Bung Karno, Ende sesungguhnya menjadi rahim Pancasila. Karena itu, hidup bersama di Ende, hendaknya telah dijaga soliditasnya sebagaimana kokohnya Pancasila dalam hidup berbangsa di negeri ini.

Kedua, Bandara H. Hasan Aerobusman.  "Sejak kedatangan saya sebagai Gubernur Nusa Tenggara Timur tahun 2008 saya menyaksikan master plan Bandara H. Hasan Aerbousman di ruang VIP Bandara. Obsesi yang terpancar dari master plan ini, luar biasa. Landasan pacu bandara ini seolah menghubungkan Pantai Ippi di Timur dan Pantai Ende di Barat. Sekalipun saat ini, bandara ini menjadi yang paling ramai di Flores, namun sampai saat ini, master plan ini tetaplah sebuah mimpi besar.

Saya memahami benar kenadalanya, namun untuk sebuah kemajuan besar, untuk sebuah eksistensi wilayah dan denyut nadi pertumbuhan, langkah besar harus diputuskan dengan berani. Bandara ini harus dikembangkan, seberapapun konsekuensi biayanya,"kata Lebu Raya.

Ketiga, Danau Kelimutu. Sejak dulu adalah Danau tiga warna Kelimutu namun persoalannya sederhana, Danau Kelimutu, manajemen pengelolaannya masih seperti dulu. Wisatawan dari Ende menuju Kelimutu dan sebaliknya. Belum dioptimalkan, potensi wisata alam pendukung di sepanjang Reworeke Moni, untuk menahan sedikit lebih lama, keberadaan wisatawan di Ende.

Keempat, ubi Nuabosi dan pisang baranga kesan setiap saat mengunjungi Ende yakni, rasanya tidak lengkap bila datang di Ende, belum menikmati dan membawa pulang ubi Nuabosi dan pisang beranga. Pertanyaannya refleksif yang perlu direnungkan, sejak dulu sampai sekarang, Ubi Nuabosi dan Pisang Branga masih seperti dulu. Dibungkus dalam gardus, dibawa sebagai buah tangan. Belum ada sentuhan tehnologi pengolahan untuk sebuah nilai tambah dan daya tarik ekonomis.

Kelima pembinaan PNS beberapa saat kemarin sejak adanya putusan MK, oknum - oknum PNS di Ende, tidak lagi mematuhi arahan pimpinan Kabupaten Ende sebelumya, Bupati Wangge maupun Wakil Bupati Achmad Modhar. Realita ini sungguh miris, karena PNS itu abdi masyarakat, bukan abdi Kepala Daerah. Sebagai abdi masyarakat, pelaksanaan tugas pelayanan kemasyarakatan tidak terikat pada pejabat politik dan ruang jabatannya, apalagi berafilisasi pada kelompok kepentingan tertentu. Kinerja, kedisiplinan, pelayanan dan orientasi pelaksanaan tugas PNS harus terus bergulir, tanpa dipengaruhi oleh aktus politik praktis.*http://kupang.tribunnews.com/2014/04/07/melantik-bupati-ende-guburnur-titip-lima-persoalan-untuk-dicari-solusinya
 ENDE -- Ir Marselinus Y.W Petu dan Drs H Djafar H Achmad, MM dilantik menjadi Bupati Ende oleh Gubernur NTT, periode 2014-2019 di Gedung DPRD Ende, Senin (7/4/2014)

Dalam sambutannya Gubernur Frans Lebu Raya menitipkan lima persoalan untuk dicarikan solusinya oleh pasangan Marsel-Djafar.

Pertama Kota Ende suasana kebersamaan hidup di Kota Ende yang dihuni penduduk katolik dan Islam sejak dulu, telah menginspirasi Bung Karno menemukan serat - serat nilai kehidupan yang mengkristal dan dicetuskan sebagai Pancasila. Oleh Bung Karno, Ende sesungguhnya menjadi rahim Pancasila. Karena itu, hidup bersama di Ende, hendaknya telah dijaga soliditasnya sebagaimana kokohnya Pancasila dalam hidup berbangsa di negeri ini.

Kedua, Bandara H. Hasan Aerobusman. "Sejak kedatangan saya sebagai Gubernur Nusa Tenggara Timur tahun 2008 saya menyaksikan master plan Bandara H. Hasan Aerbousman di ruang VIP Bandara. Obsesi yang terpancar dari master plan ini, luar biasa. Landasan pacu bandara ini seolah menghubungkan Pantai Ippi di Timur dan Pantai Ende di Barat. Sekalipun saat ini, bandara ini menjadi yang paling ramai di Flores, namun sampai saat ini, master plan ini tetaplah sebuah mimpi besar.

Saya memahami benar kenadalanya, namun untuk sebuah kemajuan besar, untuk sebuah eksistensi wilayah dan denyut nadi pertumbuhan, langkah besar harus diputuskan dengan berani. Bandara ini harus dikembangkan, seberapapun konsekuensi biayanya,"kata Lebu Raya.

Ketiga, Danau Kelimutu. Sejak dulu adalah Danau tiga warna Kelimutu namun persoalannya sederhana, Danau Kelimutu, manajemen pengelolaannya masih seperti dulu. Wisatawan dari Ende menuju Kelimutu dan sebaliknya. Belum dioptimalkan, potensi wisata alam pendukung di sepanjang Reworeke Moni, untuk menahan sedikit lebih lama, keberadaan wisatawan di Ende.

Keempat, ubi Nuabosi dan pisang baranga kesan setiap saat mengunjungi Ende yakni, rasanya tidak lengkap bila datang di Ende, belum menikmati dan membawa pulang ubi Nuabosi dan pisang beranga. Pertanyaannya refleksif yang perlu direnungkan, sejak dulu sampai sekarang, Ubi Nuabosi dan Pisang Branga masih seperti dulu. Dibungkus dalam gardus, dibawa sebagai buah tangan. Belum ada sentuhan tehnologi pengolahan untuk sebuah nilai tambah dan daya tarik ekonomis.

Kelima pembinaan PNS beberapa saat kemarin sejak adanya putusan MK, oknum - oknum PNS di Ende, tidak lagi mematuhi arahan pimpinan Kabupaten Ende sebelumya, Bupati Wangge maupun Wakil Bupati Achmad Modhar. Realita ini sungguh miris, karena PNS itu abdi masyarakat, bukan abdi Kepala Daerah. Sebagai abdi masyarakat, pelaksanaan tugas pelayanan kemasyarakatan tidak terikat pada pejabat politik dan ruang jabatannya, apalagi berafilisasi pada kelompok kepentingan tertentu. Kinerja, kedisiplinan, pelayanan dan orientasi pelaksanaan tugas PNS harus terus bergulir, tanpa dipengaruhi oleh aktus politik praktis



No comments:

Post a Comment