WELCOME TO ENDE FLORES KOTA RAHIMNYA PACASILAKOTA RAHIMNYA PACASILA

Selasa, 18 Maret 2014

PERANG ITU SUDAH SELESAI, PELABUHAN IPII ENDE AKAN KEMBALI BERJAYA

10 tahun Pemerintah dan masyarakat Kab.Ende-NTT berperang melawan makluk tak bernyawa. Selama 10 tahun itu juga sejumlah bendera berkibar di dermaga Ipi, tapi tidak ada satupun bendera kemenangan yang bisa dikibarkan. Dan di penghujung 10 tahun itu, tepatnya pada tanggal 6 Maret 2014, hanya bendera NMS ( Nautic Maritim Salvage) yang mampu bertahan atas kerasnya gelombang dan arus laut sawu serta mampu keluar sebagai pemenang setelah memporak-porandakan semua anggapan irasional, segala bujukan bernuansa politis dan segala rayuan bernafaskan kolusi.

Ketika dentuman balon gas raksasa membangunkan peniup sangkakala dari tidur panjang, semua makluk bawah laut hingar bingar ketakutan karena sebentar lagi sangkakala berbunyi petanda perang dan bencana datang. Memang benar, sangkakala berbunyi memekakkan telinga, diikuti deru gas menggelembungkan balon di empat penjuru mata angin. Dengan dan dalam hitungan mundur yang diawali angka 3, bah kiamat datang.Tulang belulang dan sisa-sisa usus Nusa Damai tergoncang dan terdongkrak tak ampun, membumbung dan membawa bangkai sial ke permukaan jagat. Semua mata menatap-lahap bangkai pulau bencana, si Nusa Damai yang terkepung-apung. Itulah detik-detik runtuhnya kecongkakan yang harus berakhir dengan kebinasaan.

Kini makluk tak bernyawa itu yang sudah meluluh-lantakan harapan putra dan putri kelimutu untuk bisa hidup lebih baik lagi dan hilang selama 10 tahun, harus bertekuk lutut di kaki sang pahlawan nusa bunga, PT.Nautic Maritim Salvage. Anak-anak asuhan Syaiful sang jenderal lapangan yang mengomandani tim evakuasi Nusa Damai membuat makluk tak bernyawa ini tak bisa berspekulasi lagi. Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, Nusa Damai sang bangkai harus minggat dibawah paksaan teknologi berantai, kecerdasan sang komandan dan ketrampilan juru selam.

Selesai sudah perang melawan Nusa Damai yang 10 tahun telah membuat ketidak-damaian bagi kapal yang merapat dan membuang sauh di kolam labuh dermaga Ipi Ende. Perang pamungkas ini adalah perang kota, perang teknologi tanpa ada sentuhan politis, kepentingan atau afiliasi pada siapapun di Ende ini, kecuali untuk dan demi kemaslahatan masyarakat Kabupaten Ende.Kini bangkai Nusa Damai itu terseret arus laut selatan dan tenggara, membiarkan kolam labuh tersenyum simpuh menatap tanpa rasa. Semua sudah selesai.

Kerinduan masyarakat Ende yang sudah terpotong-potong, saat ini sudah menyatu kembali dan malah justeru memperkuat komitmen dan karya nyata agar kolam labuh dermaga Ipi akan menampakan lalu lalang dan hilir mudik kapal barang dan penumpang yang mencerminkan bangkitnya kembali arus barang dan jasa, yang menelusuri samudera lepas, membingkai rantai perekonomian menuju pantai tebusan.

Di wajah anak nelayan kini nampak ada asa. Di mata ibu-ibu ada binar bah bintang timur. Di mata anak putus sekolah ada tawa karena sebentar lagi mereka sudah bisa mengais rejeki tanpa meminta-minta. Merebut bagasi menjadikannya rupiah dari keringat dan darah.

Keramaian bandar yang tertidur sejak lama, terbelalak lagi terkena siraman cahaya pagi dan rona benderang petromax beraliran malam hari. Simpang siur mobil menunggu dan mencari penumpang menyatu dengan para portir yang sigap memandu dan memikul barang. Semuanya menjadi hidup dan menghidupkan suasana serta kegairahan yang selama 10 tahun mati suri.

“Pak, sodho abe Baba Bupati, abe imu mai Jawa ata selama na kema mbana pati wau kapal Nusa Damai.Kami bala tazo ozo kema abe. Ono rina ra Nggae dewa, mbeja na abe wi mbana iwa saza raza, mbana neka raza masa, zeta neka wozo eo mozo, mae sidi soi”Pak, sampaikan pada Bapak Bupati, teman-teman dari jawa/tim evakuasi KM.Nusa Damai, doa kami selalu bersama mereka.Biar semua pekerjaan mereka selalu terhindar dari hambatan dan aral yang melintang, berjalan mulus” Ungkap Hadijah salah seorang ibu yang biasa menjual kopi dan buah-buahan di pelabuhan Ipi.

Ketulusan ungkapan hati dari Ibu Hadijah ini mencerminkan begitu besar harapannya agar dalam waktu yang tidak lama lagi kapal-kapal roro dari Surabaya sudah bisa datang ke Ende dan menjalankan aktifitas bongkar muat barang dan penumpang. Karena dari situlah ia mengais rejeki untuk membiayai hidupnya dan menyekolahkan anaknya.

Salah seorang portir, Arifin Nubi juga mengisahkan keluhannya. Arifin yang tinggal dibilangan Ambutonda, Kelurahan Kota Raja ini mengatakan, ia bekerja sebagai portir sudah 23 tahun.Setelah kasus tenggelamnya KLM Nusa Damai, pendapatannya menurun drastic. Sebab ia hanya berharap pada datangnya kapal penumpang PT.Pelni, KM.Awu. Itupun 2 minggu sekali. Namun ketika kapal roro beroperasi secara rutin di pelabuhan Ipi, pendapatannya nterbilang cukup baik. Karena kapal roro boleh dikatakan hampir setiap 2 hari sekali merapat di dermaga Ipi. Selain menjalani pekerjaan sebagai portir, ia juga menjual makanan ringan/kue dan kopi serta kelapa muda. “ dari kerja sebagai portir saja, sebulannya saya bisa dapat 1 juta lebih. Belum hasil jualan kopi dan makanan ringan, itu untungnya kalau dijumlah dalam 1 bulan bisa mencapai 650 ribu Pak. Setelah Nusa Damai tenggelam, anak saya yang kedua putus sekolah. Hanya sampai SMP saja Pak. Ya, saya sangat berterima kasih pada Bapak Bupati yang sudah berjuang keras dan menunjuk tim dari Surabaya itu pindahkan kapal yang tenggelam. Kan roro pasti akan datang lagi.” Ujar Arifin dengan nada penuh harapan.

Lukas yang berdomisili dibilangan Koponggena dan kesehariannya bekerja sebagai tukang ojek, begitu mendengar bangkai KM Nusa Damai berhasil dievakuasi, duduk merunduk berurai air mata. Ia terharu karena setelah melewati perjuangan yang panjang akhirnya bangkai kapal pembawa malapetaka ekonomi, bisa digeser sehingga kolam labuh dermaga Ipi dapat berfungsi lagi. “Sebagai tukang ojek, saya bisa mendapat pemasukan sebulannya mencapai 1,8 juta pak. Itu baru hasil dari antar jemput penumpang, siang dan malam hari. Belum ojekan berlangganan dari anak sekolah. Sekali datang, saya bisa dapat sampai 300 ribu. Sekali antar biasanya kalau malam, dalam kota per-kali antar 50 rb sampai ditempat. Bisa 6 kali antar pak termasuk dengan barang.” Kisahnya.

Sementara itu Bupati Ende, Don Bosco M.Wangge, dalam acara syukuran dan perpisahan dengan tim evakuasi KM Nusa Damai (Rabu,12/03/14) mengatakan bahwa ia sudah melakukan kontak dan komunikasi dengan beberapa perusahaan yang memiliki kapal Roro di Surabaya. Intinya, menyampaikan bahwa dermaga Ipi Ende-NTT sudah bisa disandari kapal Roro dan kapal barang serta penumpang lainnya. Penyampaian itu, demikian Bupati mendapat respon yang baik sekali. “Sekarang hanya pengaturan jadwal kedatangan sambil menanti beberapa perbaikan dan pekerjaan dermaga yang saat ini tengah dilaksanakan” Tutur Bupati Wangge.

Selamat jalan Bapak Syaiful dan kawan-kawan.Selamat bertugas di tempat yang lain. Kemenangan ini adalah kemenangan masyarakat Ende. Jasamu selalu kami kenang dalam setiap doa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar